Senin, 09 Januari 2012

ASKEP ANEMIA


BAB I

I. Konsep Medik
A. Defenisi
Anemia adalah pengurangan jumlah sel darah merah, kuantitas hemoglobin, dan volume pada sel darah merah (hematokrit) per 100 ml darah. Dengan demikian, anemia bukan suatu diagnosis melainkan pencerminan dari dasar perubahan patofisiologis, yang diuraikan oleh anamnesa dan  pemeriksaan fisik yang teliti, serta didukung oleh pemeriksaan laboratorium.

B. Etiologi
Berkurangnya sel darah merah dapat disebabkan oleh kekurangan kofaktor untukeritropoesis, seperti: asam folat, vitamin B12, dan besi. Produksi sel darah merah juga dapat turun apabila sumsum tulang tertekan (oleh tumor atau obat) atau rangsangan yang tidak memadai karena kekurangan eritropoetin, seperti yang terjadi pada penyakit ginjal kronis.
Peningkatan penghancuran sel darah merah dapat terjadi akibat aktivitas sistem retikuloendotelial yang berlebihan (misal hipersplenisme) atau akibat sumsum tulang yang menghasilkan sel darah merah abnormal.

C. Anatomi dan Fisiologi
System hematology tersusun atas darah dan tempat darah diproduksi,termasuk sumsum tulang dan nodus limfa. Darah adalah organ khusus yang berbeda dengan organ lain karena berbentuk cairan. Darah adalah suspensi dari partikel dalam larutan koloid cair yang mengandung elektrolit. Peranannya sebagai medium pertukaran antara sel-sel yang terfiksasi dalam tubuh dan lingkungan luar serta memiliki sifat-sifat protektif terhadap organisme sebagai suatu keseluruhan dan khususnya terhadapdarahnya sendiri.
Unsur seluler darah terdiri dari sel darah merah (eritrosit), beberapa jenis sel darah putih (leukosit), dan pecahan sel  yang disebut trombosit.
1.     Sumsum Tulang
Sumsum tulang menempati bagian dalam tulang spons dan bagian tengah rongga tulang panjang. Sumsum merupakan 4% dari 5% berat badan total, sehingga merupakan yang peling besar dalam tubuh. Sumsum biasa berwarna merah atau kuning.
Sumsum merah merupakan tempat diproduksi sel darah merah aktif dan merupakan organ hematopoetik (penghasil darah) utama.  Sedang sumsum kuning, tersusun utama oleh lemak dan tidak aktif dalam produksi elemen darah.

2.    Eritrosit
Sel darah merah atau eritrosit adalah merupakan cakram bikonkaf yang tidak berinti yang kira-kira berdiameter 8 m, tebal bagian tepi 2 m pada bagian tengah tebalnya hanya 1 m atau kurang. Karena sel itu lunak dan lentur maka dalam perjalanannya melalui mikrosirkulasi konfigurasinya berubah.
Stroma bagian luar yang mengandung protein terdiri dari antigen kelompok A dan B serta factor Rh yang menetukan golongandarah seseorang. Komponen utama sel darah merah adalah protein hemoglobin (Hb) yang mengangkut O2 dan CO2 dan mempertahan Ph normal melalui serangkaian dapat intra seluler. Molekul-molekul Hb terdiri dari 2 pasang rantai polipeptida (globin) dan 4 gugus hem, masing masing mengandung atom besi.konfigurasi ini memungkinkan pertukaran gas yang sangat sempurnah pembentukan hemoglobin terjadi pada sumsum tulang melalui semua stadium pematangan  sel darah merah memasuki  sirkulasi sebagai  retikolosit dari sumsum tulang. Retikolosit adalah stadium terakhir dari sel darah merah yang belum matang dan mengandung  jala dan serat serat reticular.jumlah kecil hemoglobin masih di hasilkan selama 24 sampai 48 pematangan.retikulum kemudian larut dan menjadi  sel darah merah yang matang.

3.    Leukosit (sel darah putih)
Leukosit merupakan unit yang mobil/aktif dari system pertahanan tubuh.leukosit sebagian terbentuk dari sumsum tulang  (granulosit dan monosit serta sedikit limfosit) dan sebagian lagi di bagian limfe (limfosit limfe dan sel-sel  plasma).
Setelah dibentuk, sel-sel ini diangkut dalam darah menuju bagian tubuh untuk di gunakan. Manfaat sesungguhnya dari sel darah putih ialah bahwa kebanyakan di transport secara khusus ke daerah yang terinfeksi dan mengalami peradangan yang serius, jadi menyediakan pertahanan yang cepat dan terhadap bahan infeksius yang mungkin ada. Ada 6 macam sel darah putih yang ditemukan secara normal di temukan dalam darah. Keenam sel tersebut ialah netrofil polimorfonuklir, eosinofil polimorfonuklir, basofil polimorfonuklir, monosit, limfosit, dan kadang-kadang sel plasma. Selain itu terdapat juga sejumlah besar trombosit, yang merupakan pecahan dari tipe ketujuh sel  darah putih yang dijumpai dalam sumsum tulang, yakni megakariosit. Ketiga tipe dari sel, yaitu sel polimorfonuklir, selurunya memiliki gambaran granular, karena alas an itu mereka disebut grnulosit atau dalam terminology klinis disebut “poli” karena intinya multiple.
Granulosit dan monosit melindungi tubuh terhadap organisme penyerang utama dengan cara mencernakannya yaitu melalui fogositosi,. Fungsi utama limfosit dan sel-sel plasma berhubungan dengan sisterm imun.

4.    Trombosit
Trombosit merupakan partikel kecil, berdiameter 2 sampai 4 jam, yang terdapat  pada sirkulasi plasma darah. Karena dapat mengalami disintegritas cepat dan mudah, jumlahnya selalu berubah antara 150.000 dan 450.000 per mm3 darah, tergantung jumlah yang dihasilkan, bagaiman digunakan, dan kecepatan kerusakan. Dibentuk oleh fragmentasi sel raksasa sumsum tulang, yang disebut megakariosit. Produksi trombosit diatur oleh trombopotein.
Trombosit berperan penting dalam mengontrol perdarahan. Apabila terjadi perdarahan cedera vascular, trombosit mengumpul pada tempat cedera tersebut.subtanti yang dilepaskan dari granula trombosit dan sel darah lainnya menyebabkan trombosit menempel satu sama lain dan membentuk tambalan atau sumbatan, yang sementara menghentikan pendarahan. Subtansi lain dilepaskan dari trombosit untuk mengaktifasi factor pembekuan dalam plasma darah.

5.    Plasma Darah
Apabila elemen seluler diambil dari darah, bagian cairan yang tersisa dinamakan plasma darah. Plasma darah mengandung ion, protein, dan zat lain. Apabila plasma dibiarkan membeku, sisa cairan yang tertinggal dinamakan serum. Serum mempunyai kandungan yang sama dengan plasma, kecuali kandungan fibrinogen dan beberapa factor pembekuan.
Protein plasma tersusun terutama oleh albumin dan globulin. Globulin tersusun atas fraksi alfa, beta, dan gama yang dapat dilihat dengan uji llaboraturium yang dinamakan elektroforesis protein. Masing-masing kelompok disusun oleh protein tertentu.
Gama globulin yang tersusun terutama oleh antibody dinamakn imunoglobilin. Protein ini dihasilkan limfosit dan sel plasma. Protein plasma yang berperan penting dalam fraksi alfa dan beta adalah globulin transpor dan factor pembekuan yang dibentuk dihati. Globulin transpor membawa berbagi zat dalam terikat sepanjang sirkulasi. Misalnya tiroid terikat globulin, membawa tiroksin, dan transferin membawa besi. Factor pembekuan, termasuk fibrinogen, tetap dalam keadaan tidak aktif dalam plasma darah sampai diaktivasi pada reaksi taha-tahap pembekuan.
Albumin terutama penting untuk pemeliharaan volume cairan dalam system vascular. Dinding kapiler tidak permeable terhadap albumin, sehingga keberadaannya dalam plasma menciptakan gaya onkotik yang menjaga cairan dalam rongga vascular. Albumin yang dihasilkan oleh hati, memiliki kapasitas mengikat berbagai zat yang ada dalam plasma. Dalam hal ini, albumin berfungsi sebagai protein transpor untuk logam, asam lemak, bilirubin, dan obat-obatan di antara zat lainnya.


D. Patofisiologi
Timbulnya anemia mencerminkan adanya kegagalan sumsum tulang atau kehilangan sel darah merah berlebihan atau keduanya. Kegagalan sumsum tulang (misalnya, berkurangnya eritropoesis) dapat terjadi akibat kekurangan nutrisi, terpapar zat toksit, invasi tumor, atau kebanyakan akibat idiopatik. Sel darah merah dapat hilang melalui perdarahan atau hemolisis (destruksi). Pada kassus yang disebut terakhir, masalahnya dapat terjadi akibat defek sel ddarah merah yang tidak sesuai dengan ketahanan sel darah merah normal atau akibat beberapa faktor di luar seldarah merah yang menyebabkan destruksi sel darah merah.
            Lisi sel darah merah (disolusi) terjadi terutama dalam sel fagositik atau dalam sistem retikuloendotelial, terutama dalam hati dan limpa. Sebagai efek samping proses ini, bilirubin, yang terbentuk dalam fagosit akan memasuki aliran darah. Setiap kenaikan destruksi sel darah merah (hemolisis) segera direfleksikan dengan peningkatan bilirubin plasma. Konsentrasi normalnya 1 mg/ dl atau kurang; kadar di atas 1,5 mg/ dl mengakibatkan ikterik pada sklera.
            Apabila sel darah merah mengalami penghancuran dalam sirkulasi, seperti yang terjadi pada berbagai kelainan hemolitik, maka hemoglobin akan muncul dalam plasma (hemoglobinemia). Apabila konsentrasi plasmanya melebihi kapasitas hemoglobin plasma (protein pengikat untuk hemoglobin bebas) untuk mengikat semuanya (misal, apabila jumlahnya lebih dari sekitar 100 mg/ dl), hemoglobin akan terdifusi dalam glomelurus ginjal dsn ke dalam glomerulus ginjal dan ke dalam urine (hemoglobinuria). Jadi ada atau tidak adanya hemoglobinemia dan hemoglobinuria dapat memberikan informasi mengenai lokasi penghancuran sel darah merah abnormal pada klien dengan hemolisis dan dapat merupakan petunjuk untuk mengetahui sifat proses hemolitik tersebut.
            Kesimpulan mengenai apakah anemia pada klien tertentu disebabkan oleh penghancuran sel darah merah atau produksi sel darah merah yang tidak mencukupi, biasanya dapat diperoleh dengan dasar hitung retikulosis dalam sirkulasi darah, derajat proliferasi sel darah merah muda dalam sumsum tulang dan cara pematangannya, seperti yang terlihat dengan biopsi, serta ada atau tidaknya hiperbilirubinemia dan hemoglobinemia.

E. Gambaran Klinik/ Gejala
Gejala-gejala yang disebabkan oleh pasokan oksigen yang tidak mencukupi kebutuhan ini, bervariasi. Anemia bisa menyebabkan kelelahan, kelemahan, kurang tenaga dan kepala terasa melayang. Jika anemia bertambah berat, bisa menyebabkan stroke atau serangan jantung.

F. Pemeriksaan Diagnostik
Jumlah darah lengkap ( JDL ) :
-      Jumlah eritrosit : menurun (AP), menurun berat (aplastik); MCV (volume korpuskular rerata) menurun dan mikrositik dengan eritrosit hipokromoik (DB), peningkatan (AP). Pansitopenia (aplastik).
-      Hemoglobin dan hematokrit menurun.
-      Jumlah retikulosit : bervariasi, misalnya menurun (AP), meningkat (respons sumsum tulang terhadap kehilangan darah / hemolisis.
-      Pewarnaan SDM : mendeteksi perubahan warna dan bentuk (dapat mengindikasikan tipe khusus anemia).
-      LED : peningkatan menunjukkan adanya reaksi inflamasi, misalnya peningkatan kerusakan SDM atau penyakit malignasi.
-      Masa hidup SDM : berguna dalam membedakan diagnosa anemia, misalnya pada tipe anemia tertentu, SDM mempunyai waktu hidup lebih pendek.
-      Test kerapuhan eritrosit : menurun (DB).
-      SDP : jumlah sel total sama dengan SDM (diferensial) mungkin meningkat (hemolitik) atau menurun (aplastik).
-      Jumlah trombosit : Menurun (aplastik); meningkat (DB); normal atau tinggi (hemolitik).
-      Hemoblobin elektroforesis : mengidentifikasi tipe struktur hemoglobin.
-      Billirubin serum (tak terkonjungasi) : meningkat (AP, HEMOLITIK).
-      Folat serum dan vitamin B 12 : membantu mengdiagnosa anemia sehubugngan defisensi masukan/absorbsi
-      Besi serum; meningkat (DB)
-      Feritin serum; menurun (DB)
-      Masa perdarahan; memanjang (aplastik)
-      LDH serum; mungkin meningkat (AP)
-      Tes schilling; penurunan ekskresi vitamin B12  urine (AP)
-      Guaiak; mungkin  positif untuk darah pada urine. Feses, dan isi gaster, menunjukkan perdarahan akut/kronis (AP)
-      Analisa gaster; penurunan sekresi dengan pH dan tak adanya asam hidroklorik bebas (AP)
-      Aspirasi sumsum tulang/pemeriksaan biopsi; sel mungkin tampak berubah dalam jumal, ukuran dan bentuk membentuk membedakan tipe anemia, misalnya, peningkatan megaloblastik (AP) ,lemak sumsung tulang  dengan penurunan sel darah (aplastik)
-      Pemeriksaan endoskopi dan radiografi; memeriksan sisi perdarahan ; perdarahan GI.

G. Pengobatan
Pengobatan anemia tergantung pada penyebabnya:
1.     Anemia kekurangan zat besi. Bentuk anemia ini diobati dengan suplemen zat besi, yang mungkin Anda harus minum selama beberapa bulan atau lebih. Jika penyebab kekurangan zat besi kehilangan darah - selain dari haid - sumber perdarahan harus diketahui dan dihentikan. Hal ini mungkin melibatkan operasi.
2.    Anemia kekurangan vitamin. Anemia pernisiosa diobati dengan suntikan - yang seringkali suntikan seumur hidup - vitamin B-12. Anemia karena kekurangan asam folat diobati dengan suplemen asam folat.
3.    Anemia penyakit kronis. Tidak ada pengobatan khusus untuk anemia jenis ini. Dokter berfokus pada mengobati penyakit yang mendasari. Suplemen zat besi dan vitamin umumnya tidak membantu jenis anemia ini . Namun, jika gejala menjadi parah, transfusi darah atau suntikan eritropoietin sintetis, hormon yang biasanya dihasilkan oleh ginjal, dapat membantu merangsang produksi sel darah merah dan mengurangi kelelahan.
4.    Aplastic anemia. Pengobatan untuk anemia ini dapat mencakup transfusi darah untuk meningkatkan kadar sel darah merah. Anda mungkin memerlukan transplantasi sumsum tulang jika sumsum tulang Anda berpenyakit dan tidak dapat membuat sel-sel darah sehat. Anda mungkin perlu obat penekan kekebalan tubuh untuk mengurangi sistem kekebalan tubuh Anda dan memberikan kesempatan sumsum tulang ditransplantasikan berespon untuk mulai berfungsi lagi.
5.    Anemias terkait dengan penyakit sumsum tulang. Pengobatan berbagai penyakit dapat berkisar dari obat yang sederhana hingga kemoterapi untuk transplantasi sumsum tulang.
6.    Anemias hemolitik. Mengelola anemia hemolitik termasuk menghindari obat-obatan tertentu, mengobati infeksi terkait dan menggunakan obat-obatan yang menekan sistem kekebalan Anda, yang dapat menyerang sel-sel darah merah. Pengobatan singkat dengan steroid, obat penekan kekebalan atau gamma globulin dapat membantu menekan sistem kekebalan tubuh menyerang sel-sel darah merah.

Jika kondisi telah menyebabkan pembesaran limpa, Anda mungkin perlu untuk menerima limpa Anda diangkat. Limpa Anda- organ yang relatif kecil di bawah tulang rusuk di sisi kiri - penyaring sel-sel darah merah yang rusak. Anemia hemolitik tertentu dapat menyebabkan limpa Anda menjadi besar dengan sel darah merah rusak. Kadang-kadang, limpa memberikan kontribusi terhadap anemia hemolitik dengan membuang terlalu banyak sel darah merah. Tergantung pada keparahan anemia Anda, transfusi darah atau plasmapheresis mungkin diperlukan. Plasmapheresis adalah jenis prosedur penyaringan darah.
7.    Sickle cell anemia. Pengobatan untuk anemia ini dapat mencakup pemberian oksigen, obat menghilangkan rasa sakit, baik oral dan cairan infus untuk mengurangi rasa sakit dan mencegah komplikasi. Dokter juga biasanya menggunakan transfusi darah, suplemen asam folat dan antibiotik. Transplantasi sumsum tulang mungkin merupakan pengobatan yang efektif pada beberapa keadaan. Sebuah obat kanker yang disebut hidroksiurea (Droxia, Hydrea) juga digunakan untuk mengobati anemia sel sabit pada orang dewasa.

II.   Konsep Asuhan Keperawatan
A. Pengkajian

 

AKTIVITAS ISTIRAHAT

gejala

-      Keletihan, kelemahan, malaise umum
-      Kehilangan prodiktivitas , penurunan semangat untk bekerja.
-      Toleransi terhadap latihan rendah
-      Kebutuhan untik tidur dan istirahat lebih banyak.
Tanda

-      Takikardia/takikpnea; dispnea pada bekerja atau istirahat.
-      Letargi, menarik diri, apatis, lesu,  dan kurang tertarik pada sekitarnya, kelemahan otot dan penurunan kekuatan.
-      Ataksia, tubuh tidak tegak.
-      Bahu menurun, postur lunglai, berjalan lambat, dan tanda-tanda lain yang menunjukkan keletihan

SIRKULASI

Gejala

-      Riwayat kehilangan darah kronis, misalnya kehilangan gastrointestinal kronis, menstruasi berat, angina, CHF (akibat kerja jantung berlebihan)
-      Riwayat endokarditis infektif kronik
-      Palpitasi  (takikardia kompensasi)
Tanda

-      Tekanan darah peningkatan sistolik dengan diastolik stabil dan tekanan nadi melebar; hipotensi postura.
-      Disaritmia; abnormalitas EKG, misalnya, depresi segmen ST dan pendataran atau depresi gelombang T; takikardi.
-      Baunyi jantung murmur sistolik (DB)
-      Warn ekstremitas; pucat pada kulit dan membran mukosa  (konjungtiva, mulut, faring, bibir) dan dasar kuku. (catatan; pada pasien kulit hitam, pucat dapat tampak sebagai keabu-abuan) kulit seperti berlilin, pucat (aplastik), atau kuning lemon terang (PA)
-      Skelera biru atau putih seperti mutiara (DB)
-      Pengisian kapiler melambat (penurunan aliran darah ke perifer dan vasokonstriksi  kompensasi)
-      Kuku mudah patah, berbentuk seperti sendok (Koilonokia) (DB)
-      Rambut; kering, mudah putus, menipis, tumbuh uban secara prematur.

INTEGRITAS EGO

Gejala

-      Keyakinan agama / budaya mempengaruhi pilihan pengobatan, misalnya transfusi darah.
Tanda

-      Defresi

ELIMINASI

Gejala

-      Riwayat pielonefritis, gagal ginjal.
-      Flatulen, sindrom malabsorbsi (DB).
-      Hematemesis, feses dengan darah segar, melena.
-      Diare atau konstipasi.
-      Penurunan haluaran urine.
Tanda

-      Distensi abdomen.

 

MAKANAN / CAIRAN

Gejala

-      Penurunan masukan diet, masukan diet protein hewani rendah / masukan sereal tinggi (DB).
-      Nyeri mulut atau lidah, kesulitan menelan ( ulkus pada faring ).
-      Mual / muntah, dispepsia, anoreksia.
-      Adanya penurunan berat badan.
-      Tidak pernah puas mengunyah atau pika untuk es, kotoran, tepung jagung, cat, tanah liat, dan sebagainya (DB).
Tanda

-      Lidah tampak merah daging / halus (AP; defisiensi asam folat dan vitamin B 12.
-      Membran mukosa kering, pucat.
-      Turgor kulit : buruk, kering, tampak kisut / hilang elastisitas (DB).
-      Stomatitis dan glositis (status defisiensi).
-      Bibir : selitis, misalnya inflamasi bibir dengan sudut mulut pecah ( DB ).


HIGIENE

Tanda

-      Kurang bertenaga, penampilan tak rapih.

NEUROSENSASI

Gejala

-      Sakit kepala, berdenyut, pusing, vertigo, tinitus, ketidakmampuan berkonsentrasi.
-      Insomnia, penurunan penglihatan, dan bayangan pada mata.
-      Kelemahan, keseimbangan buruk, kaki goyah ; parastesia tangan / kaki (AP) ; klaudiaksi.
-      Sensasi menjadi dingin.
Tanda

-      Peka rangsang, gelisah, defresi, cenderung tidur, apatis.
-      Mental : tak mampu berespon lambat dan dangkal.
-      Oftalmik : hemoragis retina ( aplastik, AP ).
-      Epistaksis, perdarahan dari lubang – lubang ( aplastik ).
-      Gangguan koordinasi, ataksia : penurunan rasa getar dan posisi, tanda Romberg positif, paralisis ( AP ).

NYERI / KENYAMANAN

Gejala

-      Nyeri abdomen samar ; sakit kepala ( DB ).

PERNAPASAN

Gejala

-      Riwayat TB, abses paru.
-      Napas pendek pada istirahat dan aktivitas.
Tanda

-      Takipnea, ortopnea, dan dispnea.

KEAMANAN

Gejala

-      Riwayat pekerjaan terpajan terhadap bahan kimia, misalnya ; benzen, insektisida, fenibultazon, naftalen.
-      Riwayat terpajan pada radiasi baik sebagai pengobatan atau kecelakaan.
-      Riwayat kanker, terapi kanker.
-      Tidak toleran terhadap dingin dan / atau panas.
-      Transfusi darah sebelumnya.
-      Gangguan penglihatan.
-      Penyembuhan luka buruk, sering infeksi.
Tanda

-      Demam rendah, menggigil, berkeringat malam.
-      Limfadenopati umum.
-      Peteki dan ekimosis (aplastik).

SEKSUALITAS

Gejala

-      Perubahan aliran menstruasi, misalnya menoragia atau amenore (DB).
-      Hilang libido  ( pria dan wanita ).
-      Impoten.
Tanda

-      Serviks dan dinding vagina pucat.

PENYULUHAN / PEMBELAJARAN

Gejala

-      Kecenderungan keluarga untuk anemi ( DB / AP ).
-      Penggunaan anti konvulsan masa lalu / saat ini, antibiotik, agen kemoterapi ( gagal sumsum tulang ), aspirin, obat anti inflamasi, anti koagulan.
-      Penggunaan alkohol kronis.
-      Adanya / berulang episode perdarahan aktif  ( DB ).
-      Riwayat penyakit hati, ginjal ; masalah hematologi ; penyakit seliak atau penyakit malabsorpsi lain ; enteritis regional ; manifestasi cacing pita ; poliendokrinopati ; masalah autoimun (misalnya ; antibodi pada sel parietal, faktor intrinsik, antibodi tiroid dan sel T ).
-      Pembedahan sebelumnya, misalnya; splenektomi; eksisi tumor; penggantian katup prostetik; eksisi bedah duodenum atau reseksi gaster, gastrektomi parsial / total ( DB/AP ).
-      Riwayat adanya masalah dengan penyembuhan luka atau perdarahan; infeksi kronis, ( RA ), penyakit granulomatus kronis, atau kanker ( sekunder anemia ).
Pertimbangan

-      DRG menunjukkan rerata lama dirawat : 4,6 hari
Rencana pemulangan

-      Dapat memerlukan bantuan dalam pengobatan ( injeksi); aktivitas perawatan diri dan / atau pemeliharaan rumah, perubahan rencan diet.

B.     P










































C. Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan patofisiologi di atas dan dari data pengkajian, diagnosis keperawatan utama untuk klien mencakupbhal-hal berikut.
1.     Aktual/risiko tinggi gangguan perfusi perifer yang berhubungan denga menurunnya pengangkutan oksigen ke jaringan sekunder dari penurunan jumlah sel-sel darah merah di sirkulasi
2.    Aktual/risiko tinggi nyeri dada yang berhubungan dengan menurunnya suplai darah ke miokardium
3.    Aktual/risiko tinggi pola nafas tidak efektif yang berhubungan dengan respons peningkatan frekuensi pernapasan
4.    Aktual/risiko tinggi perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan penurunan intake, mual, dan anoreksia.
5.    Aktual/risiko tinggi intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan ntara suplai oksigen ke jaringan.
6.    Cemas yang berhubungan dengan rasa takut akan kematian, penurunan status kesehatan, situasi kritis, ancaman, atau perubahan kesehatan.


D. Rencana Keperawatan dan Evaluasi

Tujuan perencanaan dan implementasi keperawatan adalah membantu klien dalam mengatasi masalah kebutuhan dasarnya, meningkatkan kemampuan adaptasi klie secara optimal, dan mengurangi risiko komplikasi






Aktualisasi tinggi gangguan perfusi perifer yang berhubungan dengan menurunnya pengangkutan oksigen sekunder dari penurunan sel-sel darah merah sirkulasi


Tujuan dalam waktu 3×24 jam perfusi jaringan perifer meningkat
Kriteri: klien tdak mengeluh pusing, tanda-tanda vital dalam batas normal, kongjungtiva merah (TIDAK PUCAT), CRT ˂3 detik, urine ˂600 ml/hari.

INTERVENSI
RASIONAL
Kaji status mental klien secara teratur
Mengetahui derajat hipoksia pada otak
Kaji factor-faktor yang menyebabkan penurunan sel darah merah
Berkurangnya sel darah merah dapat disebabkan oleh kekurangan kofaktor untuk eritroesis, seperti: asam folat, vitamin B12, dan besi. Pada animea, karena semua system organ dapat terlibat, maka menimbulkan manifestasi klinis yang luas. Karena jumlah efektif sel darah merah berkurang, maka lebih sedikit oksigen yang dikirimkan ke jaringan.
Kaji warna kulit, suhu, sianosis, nadi perifer dan diaphoresis secara teratur.
Mengetahui derajat hipoksemia dan peningkatan tahanan perifer.
pantau urine output.
Penurunan curah jantung mengakibtkan menurunya produksi urine. Pemantaun yang ketat pada produksi urine <600 ml/hari merupakan tanda-tanda terjadinya syok kardiogenik.
Catat adanya keluhan pusing
Keluhan pusing merupakan manifestasi penurunan suplai darah ke jaringan otak yang parah
Pantau frekuensijantung dan irama.
Perubahan frekuensi dan irama jantung menunjukkan komplikasi disritmia.
Berikan makanan kecil/mudah dikunyah, batasi asupan kafein
Makanan besar dapat meningkatkan kerja miokardium. Kafein dapat merangsang langsung ke jantung sehingga meningkatkan frekuensi jantung.
Kolaborasi
Pemberian transfusi darah

Transfusi dengan PRC (packed red cells) lebih rasional diberikan pada klien yang mengalami anemia akibat penurunan sel-sel darah merah.
Pemberian antibiotika.
Kematian biasanya disebabkan oleh perdarahan atau infeksi. Meskipun antibiotik, khususnya yang aktif terhadap basil gram negatif, telah mengalami kemajuan besar passa klien ini. Klien dengan leucopenia yang jelas (penurunan abnormal sel darah putih) harus dilindungi terhadap kontak dengan orang lain yang mengalami infeksi. Antibiotik tidak boleh diberikan secara profilaksis pada klien dengan kadar neutrofil rendah dan abnormal (netropenia) karena antibiotik dapat mengakibatkan kegawatan akibat resistensi bakteri dan jamur
Pertahankan cara masuk heparin (IV) sesuai   indikasi.
Jalur yang penting untuk pemberian obat darurat.
Pemantauan laboratorium.
Pemantauan darah rutin berguna untuk melihat perkembangan pasca-intervensi.
Pemberian imunosupresif.
Terapi imunosupresif globulin antitimosit (ATG) diberikan untuk menghentikan fungsi imunologis yang memperpanjang aplasia, sehingga memungkinkan sumsum tulang mengalami penyembuhan. Klien yang berespons terhadap terapi biasanya akan sembuh dalam beberapa minggu sampai tiga bulan, tetapi respons dapat lambat sampai enam bulan setelah penanganan.
Transplantasi.
Transplantasi sumsum tulang dilakukan untuk memberikan persediaan jaringan hematopoetik yang masih dapat berfungsi.



Aktial/risiko tinggi nyeri yang berhubungan dengan ketidakseimbangan suplai darah dan oksigen dengan kebutuhan miokardium sekunder dari penurunan suplai darah ke miokardium peningkatan produksi asam laktat.
Tujuan:  dalam waktu 3 X 24 jam tidak ada keluhan dan terdapat penurunan respons nyeri dada
Kriteria: secara subjektif klien menyatakan penurunan rasa nyeri dada, secara objektif didapatkan tanda-tanda vital dalam batas normal, wajah rileks, tidak terjadi penurunan perfusi, urine >600 ml/hari
INTERVENSI
RASIONAL
Catat karakteristik nyeri, lokasi, intensitas, serta lama dan penyebarannya.
Variasi penampilan dan perilaku klien karena nyeri terjadi sebagai temuan pengkajian.
Anjurkan kepada klien untuk melaporkan nyeri dengan segera.
Nyeri berat dapat menyebabkan syok kardiogenik yang berdampak pada kematian mendadak.
Lakukan manajemennyeri keperawatan sebagaiberikut.
1. Atur posisi fisiologis.

posisi fisiologis akan meningkatkan asupan oksigen ke jaringan yang mengalami iskemia.
2. Istirahatkan klien.
Istirahat akan menurunkan kebutuhan oksigen jaringan perifer, sehingga akan menurunkan kebutuhan miokardium serta meningkatkan suplai darah dan oksigen ke miokardium yang membutuhkan oksigen untuk menurunkan iskemia.
3. berikan oksigen tambahan dengan nasal kanul  atau masker sesuai dengan indikasi.
Meningkatkan jumlah oksigen yang ada untuk pemakaian miokardium sekaligus mengurangi ketidaknyamanan akibat nyeri dada.
4. Manajemen lingkungan: lingkungan tenang dan batasi pengunjung.
Lingkungan tenang akan menurunkan stimulus nyeri eksternal dan pembatasan pengunjung akan membantu meningkatkan kondisi oksigen ruangan yang akan berkurang apabila banyak pengunjung yang berada di ruangan.
5. Ajarkan teknik relaksasi pernapasan dalam.
Meningkatkan asupan oksigen sehingga akan menurunkan nyeri sekunder dari iskemia jaringan otak.
1.       Ajarkan teknik distraksi pada saat nyeri
Distraksi (pengalihan perhatian) dapat menurunkan stimulus internal dengan mekanisme peningkatan produksi endorphin dan enkefalin yang dapat memblok reseptor nyeri untuk tidak dikirimkan ke korteks serebri sehingga menurunkan persepsi nyeri
2.    7. Lakukan manajemen sentuhan
Manajemen sentuhan pada saat nyeri berupa sentuhan dukungan psikologis dapat menurunkan nyeri. Dipton ringan dapat meningkatkan aliran darah dan dengan otomatis membantu suplai darah dan oksigen ke area nyeri dan menurunkan sensasi nyeria
Kolaborasi pemberian terapi farmakologis antiangina.
Obat-obat antiangina bertujuan untuk meningkatkan aliran darah baik dengan menambah suplai oksigen atau dengan mengurangi kebutuhan miokardium akan oksigen.
Antiangina (nitroglycerin).
Nitrat berguna untuk kontrol nyeri dengan efek vasodilatasi koroner.
Analgesik.
Menurunkan nyeri hebat, memberikan sedasi, dan mengurangi kerja miokardium


Aktual/risiko tinggi pola napas tidak efektif yang berhubungan dengan pengmbangan paru tidak optimal, kelebihan cairan di paru sekunder dari endema paru akut.
Tujuan: dalam waktu 3 X 24 jam tidak terjadi perubahan pola napas.
criteria: klien tidak sesak napas, RR dalam batas normal 16-20 kaii/menit, respons batuk berkurang.
INTERVENSI
RASIONAL                                
Auskultasi bunyi napas (krakles).
Indikasi endema paru, sekunder akibat dekompensasi jantung
Kaji adanya endema.
Curiga gagal kongesif/kelebihan volume cairan.
Ukur intake dan output.
Penurunan curah jantung, mengakibatkan gangguan ferfusi ginjal, retensi natrium/air, dan pengeluaran urine.
Timbang berat bada.
Perubahan tiba-tba dari berat badan menunjukkan gangguan keseimbangan cairan.
Pertahankan pemasukan total cairan 2.000ml/24 jam dalam toleransi kardiovaskuler.
Memenuhi kebutuhan cairan tubuh orang dewasa, tetapi memerlukan pembatasan dengan adanya dekompensasi jantung.
Kolaborasi.
Berikan diet tanpa garam.
Natrium meningkatkan retensi cairan dan volume plasma yang berdampak terhadap peningkatan beban kerja jantung dan akan meningkatkan kebutuhan miokardium.
Berikan diuretic, contoh: furosemide, sprinolakton, hidronolakton.
Diuretik bertujuan untuk menurunkan volume plasma dan menurunkan retensi cairan di jaringan, sehingga menurunkan risiko terjadinya edema paru.
Pantau data laboratorium elektrolit kalium.
Hipokalemia dapat membatasi keefektifan terapi.

Aktual/risiko tinggi perubahan nutrisi: kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan penurunan intake mual, dan anoreksia.
Tujuan: dalam waktu 3 X 24 jam terdapat peningkatan dalam pemenuhan nutrisi.
Kriteria: klien secara subjektif termotivasi untuk melakukan pemenuhan nutrisi sesuai anjuran , klien dan keluarga tentang asupan nutrisi yang tepat pada klien, asupan meningkat pada porsi makan yang disediakan.
INTERVENSI
RASIONAL
Jelaskan tentang manfaat makanan bila dikaitkan dengan kondisi klien saat ini.
Dengan pemahamn klien akan lebih kooperatif mengikuti aturan.
Anjurkan agar klien memakan makanan yang disediakan di Rumah Sakit.
Untuk menghindari makanan yang justru dapat mengganggu proses penyembuhan klien.
Beri makanan dalam keadaan hangat dan porsi kecil serta diet tinggi kalori tinggi protein.
Untuk meningkatkan selera dan mencegah mual, mempercepat perbaikan kondisi, serta mengurangi beban kerja jantung.
Libatkan keluarga pasien dalam pemenuhan nutrisi tambahan yang tidak bertentangan dengan penyakitnya.
Klien kadang kala mempunyai selera makan yang sudah terbiasa sjak di rumah. Dengan bantuan keluarga dalam pemenuhan nutrisi dengan tidak bertentangan dengan pola diet akan meningkatkan pemenuhan nutrisi.
Lakukan dan ajarkan perawatan mulut sebelum dan sesudah makan serta sebelu dan sesudah intervensi/pemeriksaan per oral.
Higiene oral yang baik akan meningkatkan nafsu makan klien.
Beri motivasi dan dukungan psikologis.
Meningkatkan secara psikologis.
Kolaborasi.
Dengan nutrisi tentang pemenuhan diet klien.

meningkatkan pemenuhan sesuai dengan kondisi klien.
Pemberian multivitamin.
Memenuhi asupan vitamin yang kurang dari penurunan asupan nutrisi secara umum dan memperbaiki daya tahan.


Intoleransi aktivitas yang berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai oksigen ke jaringan dengan kebutuhan sekunder dari penurunan curah jantung.
Tujuan: aktivitas sehari-hari klien terpenuhi dan meningkatnya kemampuan beraktivitas
Kriteria: klien menunjukkan kemampuan beraktivitas tanpa gejala-gejala berat, terutama mobilisasi di tempat tidur.
INTERVENSI
RASIONAL
Catat frekuensi dan iram jantung serta perubahan tekanan darah selama dan sesudah beraktivitas
Respons klien terhadap aktivitas dapat mengindikasikan penurunan oksigen miokardium.
Tingkatkan istirahat, batasi aktivitas, dan berikan aktivitas senggang yang tidak berat.
Menurunkan kerja miokardium/konsumsi oksigen
Anjurkan klien untuk menghindari peningkatan tekanan abdomen, misalnya mengejan saat defekasi
Dengan mengejan dapat mengakibatkan takikardia serta peningkatan tekanan darah.
Jelaskan pola peningkatan terhadap dari tingkat aktviitas. Contoh: bangun dari kursi bila tak ada nyeri, ambulasi, dan istirahat selama 1 jam setelah makan.
Aktivitas yang maju memberikan kontrol jantung, meningkatkan regangan, dan mencegah aktivitas berlebihan
Pertahankan klien tirah baring sementara sakit.
Untuk mengurangi beban jantung.
Pertahankan rentang gerak pasif selama sakit kritis.
Meningkatkan kontraksi otot sehingga membantu aliran venabalik.
Evaluasi tanda vital saat kemajuan aktivitas terjadi.
Untuk mengetahui fungsi jantung bila dikaitkan dengan aktivitas.
Berikan waktu istirahat diantara waktu aktivitas.
Untuk mendapatkan cukup waktu reselusi bagi tubuh dan tidak telalu memaksa kerja jantung.
Selama aktivitas kaji EKG, dispnea, sianosis, kerja dan frekuensi napas, serta keluhan subjektif.
Melihat dampak dari aktivitas terhadap fungsi jantung.



Cemas  yang berhubungan dengan rasa takut akan kematian, ancaman, atau perubahan kesehatan
Tujuan: dalam waktu 1 X 24 jam kecemasan klien berkurang
criteria: klien menyatakan kecemasan berkurang, mengenal perasaanya, dapat mengidentivikasi penyebab atau faktor yang mempengaruhinya, kooperatif terhadap tindakan dan wajah rileks.
INTERVENSI
RASIOANAL
Bantu klien mengekspresikan perasaan marah, kehilangan, dan takut.
Cemas berkelanjutan memberikan dampak serangan jantung selanjutnya.
kaji tanda verbal dan nonverbal kecemasan, damping klien, dan lajukan tindakan bila menunjukkan perilaku merusak.
Reaksi verbal/non verbal dapat menunjukkan rasa agitasi, marah dan gelisah.
Hindari konfrontasi.
Konfrontasi dapat meningkatkan rasa marah, menurunkan kerja sama, dan mungkin memperlambat penyembuhan.
Mulai melakukan tindakan untuk mengurangi kecemasan. Beri lingkungan yang tenang dan suasana penuh istirahat.
Mengurangi rangsangan eksternal yang tidak perlu.
Tingkatkan control sensasi klien.
kontrol sensasi klien (menurunkan ketakutan) dengan cara memberikan informasi tentang keadaan klien, menekankan pada penghargaan terhadap sumber-sumber koping (pertahanan diri) yang positif, membantu latihan relaksasi dan teknik-teknik pengalihan, serta memberikan respons baik yang positif. 
Orientasikan klien terhadap prosedur rutin dan aktivitas yang diharapkan.
Orientasi dapat menurunkan kecemasan.
Beri kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan kecemasannya.
Dapat menghilangkan ketegangan terhadap kekhawatiran yang tidak diekspresikan.
Berikan kesempatan kepada klien untuk mengungkapkan kecemasannya.
Memberi waktu untuk mengekpresikan perasaan, menghilangkan cemas, dan perilaku adaptasi.
Adanya keluarga dan teman-teman yang dipilih klien untuk membantu aktivitas serta pengalihan (misalnya membaca) akan menurunkan perasaan terisolasi.
Kolaborasi:  berikan anticemas sesuai indikasi, contohnya diazepam.
Meningkatkan relaksasi dan menurunkan kecemasan.


Evaluasi
Hasil akhir yang diharapkan, meliputi hal-hal sebagai berikut:
1.     Terhindar dari resiko penurunan perfusi perifer
2.    Bebas dari nyeri
3.    Terpenuhinya aktifitas sehari-hari
4.    Terpenuhinya kebutuhan nutrisi
5.    Menunjukkan penurunan kecemasan
·         Memahami penyakit dan tujuan perawatannya
·         Mematuhi semua aturan medis
·         Mengetahui kapan harus meminta bantuan medis bila nyeri menetap atau sifatnya berubah.










BAB II

A. Kesimpulan
Anemia adalah suatu kondisi dimana tubuh mengalami kekurangan sel-sel darah merah seta hemoglobin (Hb) sehingga sirkulasi zat dalam tubuh tidak berjalan secara normal. Keadaan ini akan berpengaruh pada semua organ tubuh, bertumpuknya CO2 dalam sel yang dapat meracuni sel atau setidaknya menurunkan efisiensi dan proses lainnya dalam tubuh. Anemia terjadi karena infeksi yang sering kambuh, sedang menderita penyakit, kekurangan vitamin E ( penting untuk kesehatan sel darah), insektisida yang merusak sumsum tulang belakang, kehilangan darah yang berlebihan, dan factor yang sangat penting adalah kurangnya zat-zat gisi diantaranya Fe, Vitamin E, asam Folat yang masuk ke dalam tubuh. Anemia defisiensi Fe adalah yang paling sering terjadi. Anemia ganas dapat terjadi pada keadaan kekurangan vitamin B12 (baca anemia pernikosa). Anemia sel sabit adalah jenis lain dari anemia, ditandai dengan bentuk sel darah merah menjadi bengkok seperti bulan sabi dank eras sehingga menyumbat system peredaran darah, akibatnya tubuh akan mengalami kekurangan oksigen. Hasi penelitian menunjukan bahwa penderita anemia jenis ini sangan membutuhkan tambahan asam float minimal 5 gr per hari.

B. Saran
Zat-zat gisi tersebut adalah zat besi (Fe), protein, tembaga, asam folat, vitamin B6, B12, dan vitamin C adalah penting untuk pembentukan sel darah merah.
Perbanyak konsumsi sayuran berwarna hijau sebagai sumber zat besi.




Daftar Pustaka

Muttaqin arifin;Asuhan Keperawatan Klien dengan Gangguan Sisitem Kardiovaskular dan Hematologi;Salemba Medika;Jakarta 2009.

http://id.wikipedia.org/wiki/Anemia



Marilynn E. Donges  Dkk.; Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencaan Dan Pendokumentasian Perawatan Pasien.; Edisi 3, Penerbit Buku Kedokteran EGC ; Jakarta 1999.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar