Senin, 09 Januari 2012

ASKEP IMA(infark miokard akut)


A.    KONSEP MEDIS
1.      DEFENISI
       Infark Miokard Akut (IMA) adalah kerusakan jaringan miokard akibat iskemia hebat yang terjadi secara tiba-tiba. Tiga kriteria untuk menegakkan diagnosis IMA adalah adanya nyeri dada khas infark, elevasi segmen ST pada EKG, dan kenaikan enzim creatine kinase (CK), dan creatine kinase myocardial band (CKMB).

maksud INFARK MIOKARD AKUT  (IMA) adalah suatu keadaan kematian jaringan pada otot jantung yang diakibatkan oleh karena berkurangnya suplai oksigen ke jaringan tersebut
 -Menurut ( Corwin.E. ) Infark Miokard Akut adalah kematian sel-sel     mikardium yang terjadi akibat kekurangan Oksigen berkepanjaangan.
        -Menurut(Arif,mansioer) Infark Miokard Akut adalah nekrosis miokard akibat gangguan      aliran darah ke otot jaantung.
       -Menurut(Purwadianto,Agus dan Sampurna,Budi dkk) Infark Miokard Akut adalah  nekrosis sebagian otot jantung akibat berkurangnya suplai darah kebagian otot tersebut karena oklusi atau trombosis arteria koronaria, dapat juga akibat keadaan syok atau anemia akut
.
      2. ETIOLOGI                                                                                                                
            Pada Infark Miokard Akut dapat di kemukakan beberapa penyebab yang dapat        menimbulkan keadaan tersebut antar lain:
         Atherosklerosis arteri koroner.
         Spasme arteri koroner.
         Stenoris aorta / aorta inufisiensi.
Serangan jantung biasanya terjadi jika suatu sumbatan pada arteri koroner menyebabkan terbatasnya atau terputusnya aliran darah ke suatu bagian dari jantung. Jika terputusnya atau berkurangnya aliran darah ini berlangsung lebih dari beberapa menit, maka jaringan jantung akan mati.
Kemampuan memompa jantung setelah suatu serangan jantung secara langsung berhubungan dengan luas dan lokasi kerusakan jaringan (infark).jika lebih dari separuh jaringan jantung mengalami kerusakan, biasanya jantung tidak dapat berfungsi dan kemungkinan terjadi kematian. Bahkan walaupun kerusakannya tidak luas, jantung tidak mampu memompa dengan baik, sehingga terjadi gagal jantung atau syok
Jantung yang mengalami kerusakan bisa membesar, dan sebagian merupakan usaha jantung untuk mengkompensasi kemampuan memompanya yang menurun (karena jantung yang lebih besar akan berdenyut lebih kuat).
Jantung yang membesar juga merupakan gambaran dari kerusakan otot jantungnya sendiri. Pembesaran jantung setelah suatu serangan jantung memberikan prognosis yang lebih buruk.
Penyebab lain dari serangan jantung adalah:
Suatu bekuan dari bagian jantungnya sendiri. Kadang suatu bekuan (embolus) terbentuk di dalam jantung, lalu pecah dan tersangkut di arteri koroner.
Kejang pada arteri koroner yang menyebabkan terhentinya aliran darah. Kejang ini bisa disebabkan oleh obat (seperti kokain) atau karena merokok, tetapi kadang penyebabnya tidak diketahui.


















3 . ANATOMI DAN FISIOLOGI
       Arteri koroner kiri memperdarahi sebagaian terbesar ventrikel kiri, septum dan atrium kiri. Arteri koroner kanan memperdarahi sisi diafragmatik ventrikel kiri, sedikit bagian posterior septum dan ventrikel serta atrium kanan. Nodus SA lebih sering diperdarahi oleh arteri koroner kanan daripada kiri. (cabang sirkumfleks). Nodus AV 90% diperdarahi oleh arteri koroner kanan dan 10% diperdarahi oleh arteri koroner kiri (cabang sirkumfleks). Dengan demikian, obstruksi arteri koroner kiri sering menyebabkan infark anterior dan infark inferior disebabkan oleh obstruksi arteri koroner kanan.



4. PATOSISIOLOGI
Dua jenis kelainan yang terjadi pada IMA adalah komplikasi hemodinamik dan aritmia. Segera setelah terjadi IMA daerah miokard setempat akan memperlihatkan penonjolan sistolik (diskinesia) dengan akibat penurunan ejection fraction, isi sekuncup (stroke volume) dan peningkatan volume akhir distolik ventrikel kiri. Tekanan akhir diastolik ventrikel kiri naik dengan akibat tekanan atrium kiri juga naik. Peningkatan tekanan atrium kiri di atas 25 mmHg yang lama akan menyebabkan transudasi cairan ke jaringan interstisium paru (gagal jantung). Pemburukan hemodinamik ini bukan saja disebakan karena daerah infark, tetapi juga daerah iskemik di sekitarnya. Miokard yang masih relatif baik akan mengadakan kompensasi, khususnya dengan bantuan rangsangan adrenergeik, untuk mempertahankan curah jantung, tetapi dengan akibat peningkatan kebutuhan oksigen miokard. Kompensasi ini jelas tidak akan memadai bila daerah yang bersangkutan juga mengalami iskemia atau bahkan sudah fibrotik. Bila infark kecil dan miokard yang harus berkompensasi masih normal, pemburukan hemodinamik akan minimal. Sebaliknya bila infark luas dan miokard yang harus berkompensasi sudah buruk akibat iskemia atau infark lama, tekanan akhir diastolik ventrikel kiri akan naik dan gagal jantung terjadi. Sebagai akibat IMA sering terjadi perubahan bentuk serta ukuran ventrikel kiri dan tebal jantung ventrikel baik yang terkena infark maupun yang non infark. Perubahan tersebut menyebabkan remodeling ventrikel yang nantinya akan mempengaruhi fungsi ventrikel dan timbulnya aritmia.
Perubahan-perubahan hemodinamik IMA ini tidak statis. Bila IMA makin tenang fungsi jantung akan membaik walaupun tidak diobati. Hal ini disebabkan karena daerah-daerah yang tadinya iskemik mengalami perbaikan.
Daerah-daerah diskinetik akibat IMA akan menjadi akinetik, karena terbentuk jaringan parut yang kaku. Miokard sehat dapat pula mengalami hipertropi. Sebaliknya perburukan hemodinamik akan terjadi bila iskemia berkepanjangan atau infark meluas. Terjadinya penyulit mekanis seperti ruptur septum ventrikel, regurgitasi mitral akut dan aneurisma ventrikel akan memperburuk faal hemodinamik jantung.
Aritmia merupakan penyulit IMA tersering dan terjadi terutama pada menit-menit atau jam-jam pertama setelah serangan. Hal ini disebabkan oleh perubahan-perubahan masa refrakter, daya hantar rangsangan dan kepekaaan terhadap rangsangan. Sistem saraf otonom juga berperan besar terhadap terjadinya aritmia. Pasien IMA inferior umumnya mengalami peningkatan tonus parasimpatis dengan akibat kecenderungan bradiaritmia meningkat, sedangkan peningkatan tonus simpatis pada IMA inferior akan mempertinggi kecenderungan fibrilasi ventrikel dan perluasan infark.




5 .GEJALA KLINIK
Keluhan yang khas ialah nyeri dada retrosternal, seperti diremas-remas, ditekan, ditusuk, panas atau ditindih barang berat. Nyeri dapat menjalar ke lengan (umumnya kiri), bahu, leher, rahang bahkan ke punggung dan epigastrium. Nyeri berlangsung lebih lama dari angina pectoris dan tak responsif terhadap nitrogliserin. Kadang-kadang, terutama pada pasien diabetes dan orang tua, tidak ditemukan nyeri sama sekali. Nyeri dapat disertai perasaan mual, muntah, sesak, pusing, keringat dingin, berdebar-debar atau sinkope. Pasien sering tampak ketakutan. Walaupun IMA dapat merupakan manifestasi pertama penyakit jantung koroner namun bila anamnesis dilakukan teliti hal ini sering sebenarnya sudah didahului keluhan-keluhan angina, perasaan tidak enak di dada atau epigastrium.

Kelainan pada pemeriksaan fisik tidak ada yang spesifik dan dapat normal. Dapat ditemui BJ yakni S2 yang pecah, paradoksal dan irama gallop. Adanya krepitasi basal menunjukkan adanya bendungan paru-paru. Takikardia, kulit yang pucat, dingin dan hipotensi ditemukan pada kasus yang relatif lebih berat, kadang-kadang ditemukan pulsasi diskinetik yang tampak atau berada di dinding dada pada IMA inferior.


Walaupun sebagian individu tidak memperlihatkan tanda-tanda jelas Infark Miokard, biasanya timbul manifestasi kllimais antara lain:
         Nyeri dada mendadak.
         Mual dan muntah.
         Perasaan lemas.    
         Kulit dingin dan pucat.
         Penurunan pengeluaran urine.
         Takitardia akibat peningkatan.
         Stimulasi simpatis jantung.
         Cemas.
         Nyeri dapat menjalar ke lengan (umumnya ke kiri), bahu, leher, rahang, bahkan ke punggungg dan epigastrium.
         Nyeri berlangsung lebih lama dari angina pectoris biasa dan tidak responsive terhadap nitrogliserin.
 Setiap orang yang mengalami serangan jantung akan merasakan keluhan yang tentunya berbeda,

 Namun umumnya seseorang akan merasakan beberapa hal spesifik seperti :
1.      Nyeri dada, dimana otot kekurangan suplay darah (disebut kondisi iskemi) yang berdampak kebutuhan oxygen oleh otot berkurang. Akibatnya terjadi metabolisme yang berlebihan menyebabkan kram atau kejang. Nyeri dirasakan di dada bagian tengah, dapat menyebar kebagian belakang dada, kebagian pangkal kiri leher dan bahu hingga lengan atas tangan kiri. Beberapa pasien mungkin mengalami nyeri dibagian atas perut (pangkal tulang iga tengah bahkan bagian lambung), dimana nyeri lebih hebat dan tak hilang meski diistirahatkan atau diberi obat nyeri jantung (Nitroglycerin).
Inilah yang dinamakan Angina, penderita merasakan gelisah dengan sesak di dada dan seperti merasa dada diremas-remas. Beratnya nyeri setiap orang berbeda, bahkan beberapa orang yang mengalami suplay darah jantung berkurang merekle tidak merasakan apa-apa.
2.      Sesak nafas, Biasanya dirasakan oleh orang yang mengalami gagal jantung. Sesak merupakan akibat dari masuknya cairan ke dalam rongga udara di paru-paru (kongesti pulmoner atau edema pulmoner).
3.      Kelelahan atau kepenatan, Adanya kelainan jantung dapat menimbulkan pemompaan jantung yang tidak maksimal. Akibatnya suplay darah ke otot tubuh disaat melakukan aktivitas akan berkurang, Hal ini menyebabkan penderita merasa lemah dan lelah. Gejala seperti ini bersifat ringan, penderita hanya berusaha mengurangi aktivitasnya dan menganggap bahwa itu merupakan proses penuaan saja.
4.      Adanya perasaan berdebar-debar (palpitasi)                                                               
5.      Pusing dan pingsan, Hal ini dapat merupakan gejala awal dari penderita penyakit serangan jantung. Dimana penurunan aliran darah karena denyut atau irama jantung yang abnormal atau karena kemampuan memompa yang buruk, bisa menyebabkan pusing dan pingsan.
6.      Kebiru-biruan pada bibir, jari tangan dan kaki sebagai tanda aliran darah yang kurang adekuat keseluruh tubuh.
7.      Keringat dingin secara mendadak, dan lainnya seperti mual dan perasaan cemas.

Tanda serangan jantung :
1.      Rasa tertekan (serasa ditimpa beban, sakit, terjepit dan terbakar) yang menyebabkan sesak    napas dan tercekik di leher.
2.      Rasa sakit ini bisa menjalar ke lengan kiri,leher dan punggung.
3.      Rasa sakitnya bisa berlangsung sekitar 15-20 menit dan terjadi secara terus menerus.
4.      Timbul keringat dingin, tubuh lemah, jantung berdebar dan bahkan hingga pingsan.
5.      Rasa sakit ini bisa berkurang saat sedang istirahat, tapi akan bertambah berat jika sedang beraktivitas.



6. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. EKG :
adanya gelombang patologik disertai dengan peninggian segmen ST yang konveks dan diikuti gelombang T yang negatif dan simetrik.Yang terpenting ialah kelainan Q yaitu menjadi lebar (lebih dari 0,04 sec) dan dalam ( Q/R lebih dari ¼ )

2. Laboratorium :
Creatinin fosfakinase (CPK).Iso enzim CKMB meningkat.Hal ini terjadi karena kerusakan otot,maka enzim intra sel dikeluarkan ke dalam aliran darah.Normal 0-1 mU/ml.Kadar enzim ini sudah naik pada hari pertama ( kurang lebih 6 jam sesudah serangan ) dan sudah kembali ke nilai normal pada hari ke 3.SGOT (Serum Glutamic Oxalotransamine Test ) normal kurang dari 12 mU/ml.Kadar enzim ini biasanya baru naik pada 12 – 48 jam sesudah serangan dan akan kembali normal pada hari ke 7 dan 12.Pemeriksaan lainnya adalah ditemukannya peninggian LED,lekositosis ringan,kadang-kadang hiperglikemia ringan.

3. Kateterisasi

Angiografi koroner untuk mengetahui derajat obstruksi

4. Radiologi
Hasil radiologi tidak menunjukkan secara spesifik adanya infark miokardium, hanya menunjukkan pembesaran dari jantung

5. Ekhokardiografi

Menilai fungsi dari ventrikel kiri,gerakan jantung abnormal










7. PENGOBATAN / PELAKSANAAN
Penanganan rasa nyeri harus dilakukan sedini mungkin untuk mencegah aktivasi saraf simpatis, karena aktifasi saraf simpatik ini dapat menyebabkan takikardi, vasokontriksi, dan peningkatan tekanan darah yang pada tahap selanjutnya dapat memperberat beban jantung dan memperluas kerusakan miokardium.
Tujuan penatalaksanaan adalah untuk menurunkan kebutuhan oksigen jantung dan untuk meninggkatkan suplai oksigen.Perawat perlu mengetahui penatalaksanaan medis yang umum dilakukan pada fase serangan akut, sehingga perawat dapat memberikan implikasi keperawatan pada klien dengan IMA
.
Penatalaksanaan pada fase akut sebagei berikut :
a.       Penanganan nyeri.                                                   
Berupa terapi farmakologi : morphin sulfat, nitrat, penghambat beta (beta blockers)
b.      Membatasi ukuran infark miokard
Dilakukan dengan upaya meningkatkan suplai darah dan oksigen ke jaringan miokardium dan untuk memelihara, mempertahankan atau memulihkan sirkulasi.
Golongan utama terapi farmakologi yang diberikan :
1. Antikoagulan (mencegah pembentukan bekuan darah)
2. Trombolitik (penghancur bekuan darah, menyerang dan melarutkannya)
3. Antilipemik (menurunkan konsentrasi lipid dalam darah)
4. vasodilator perifer (meningkatkan dilatasi pembuluh darah yang menyempit karena vasospasme)
secara farmakologis, obat-obatan yang dapat membantu membatasi ukuran infark miokardium adalah antiplatelet, antikoagulan dan trombolitik.
c.       pemberia oksigen                                                                       
terapi oksigen segera dimuat saat onset nyeri terjadi sehingga saturasi oksigen

segera meningkat ketika klien segera menghirupnya.Efektivitas terapeutik oksigen ditentukan dengan observasi kecepatan dan pertukaran pernapasan.Terapi oksigen dilanjutkan hingga pasien bernapas dengan mudah.Saturasi oksigen dalam darah diukur dengan pulsa-oksimetri.
d.      Pembatasan aktivitas fisik
Istirahat merupakan cara efektif untuk membatasi aktifitas fisik.Pengurangan atau penghentian seluruh aktifitas pada umumnya akan mempercepat penghentian nyeri.Klien boleh diam tidak bergerak, dipersilahkan duduk atau sedikit melakukan aktifitas.












B.     KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

1.      PENGKAJIAN


A.    Riwayat Keperawatan dan Pengkajian Fisik:
Berdasarkan klasifikasi Doenges dkk. (2000) riwayat keperawatan yang perlu dikaji adalah:
1. Aktivitas/istirahat:
Gejala:
- Kelemahan, kelelahan, tidak dapat tidur
- Riwayat pola hidup menetap, jadual olahraga tak teratur
Tanda:
- Takikardia, dispnea pada istirahat/kerja
2. Sirkulasi:
Gejala:
- Riwayat IM sebelumnya, penyakit arteri koroner, GJK, masalah TD, DM.
Tanda:
- TD dapat normal atau naik/turun; perubahan postural dicatat dari tidur sampai duduk/berdiri.
- Nadi dapat normal; penuh/tak kuat atau lemah/kuat kualitasnya dengan pengisian kapiler lambat; tidak teratur (disritmia) mungkin terjadi.
- BJ ekstra (S3/S4) mungkin menunjukkan gagal jantung/penurunan kontraktilitas atau komplian ventrikel
- Murmur bila ada menunjukkan gagal katup atau disfungsi otot papilar.
- Friksi; dicurigai perikarditis
- Irama jantung dapat teratur atau tak teratur.
- Edema, DVJ, edema perifer, anasarka, krekels mungkin ada dengan gagal jantung/ventrikel.
- Pucat atau sianosis pada kulit, kuku dan membran mukosa.
3. Integritas ego:
Gejala:
- Menyangkal gejala penting.
- Takut mati, perasaan ajal sudah dekat
- Marah pada penyakit/perawatan yang ‘tak perlu’
- Kuatir tentang keluarga, pekerjaan dan keuangan.

Tanda:
- Menolak, menyangkal, cemas, kurang kontak mata
- Gelisah, marah, perilaku menyerang
- Fokus pada diri sendiri/nyeri.
4. Eliminasi:
Tanda:
- Bunyi usus normal atau menurun
5. Makanan/cairan:
Gejala:
- Mual, kehilangan napsu makan, bersendawa, nyeri ulu hati/terbakar.
Tanda:
- Penurunan turgor kulit, kulit kering/berkeringat
- Muntah,
- Perubahan berat badan
6. Hygiene:
Gejala/tanda:
- Kesulitan melakukan perawatan diri.
7. Neurosensori:
Gejala:
- Pusing, kepala berdenyut selama tidur atau saat bangun (duduk/istirahat)
Tanda:
- Perubahan mental
- Kelemahan
8. Nyeri/ketidaknyamanan:
Gejala:
- Nyeri dada yang timbul mendadak (dapat/tidak berhubungan dengan aktifitas), tidak hilang dengan istirahat atau nitrogliserin.
- Lokasi nyeri tipikal pada dada anterior, substernal, prekordial, dapat menyebar ke tangan, rahang, wajah. Tidak tertentu lokasinya seperti epigastrium, siku, rahang, abdomen, punggung, leher.
- Kualitas nyeri ‘crushing’, menusuk, berat, menetap, tertekan, seperti dapat dilihat.
- Instensitas nyeri biasanya 10 pada skala 1-10, mungkin pengalaman nyeri paling buruk yang pernah dialami.
- Catatan: nyeri mungkin tak ada pada pasien pasca operasi, dengan DM, hipertensi dan lansia.
Tanda:
- Wajah meringis, perubahan postur tubuh.
- Menangis, merintih, meregang, menggeliat.
- Menarik diri, kehilangan kontak mata
- Respon otonom: perubahan frekuensi/irama jantung, TD, pernapasan, warna kulit/kelembaban, kesadaran.
9. Pernapasan:
Gejala:
- Dispnea dengan/tanpa kerja, dispnea nokturnal
- Batuk produktif/tidak produktif
- Riwayat merokok, penyakit pernapasan kronis
Tanda:
- Peningkatan frekuensi pernapasan
- Pucat/sianosis
- Bunyi napas bersih atau krekels, wheezing
- Sputum bersih, merah muda kental
10. Interaksi sosial:
Gejala:
- Stress saat ini (kerja, keuangan, keluarga)
- Kesulitan koping dengan stessor yang ada (penyakit, hospitalisasi)
Tanda:
- Kesulitan istirahat dengan tenang, respon emosi meningkat
- Menarik diri dari keluarga

11. Penyuluhan/pembelajaran:
Gejala:
- Riwayat keluarga penyakit jantung/IM, DM, Stroke, Hipertensi, Penyakit Vaskuler Perifer
- Riwayat penggunaan tembakau













2.      PENYIMPANGAN KDM









3.      DIAGNOSA KEPERAWATAN
1.     Nyeri akut yang b/d ketidak seimbangan suplai darah dan oksigen dengan kebutuhan miokardium 
2.      Actual/risiko tinggi menurunnya curah jantung b/d perubahan frekuensi, irama dan konduksi elektrikal .
3.     Actual/ risiko tinggi pola nafas tidak efektif yang b/d pengembangan paru tidak optimal ,kelebihan cairan di paru sekunder edema paru akut .
4.      Actual/risiko tinggi gangguan perfusi yang b/d menueunnya curah jantung .
5.      Intoleransi aktivitas yang b/d penurunan perfusi perifer sekunder dari ketidakseimbangan antara suplai oksigen dengan kebutuhan .
6.      Cemas yang b/d rasa takut akan kematian ,ancaman ,atau perubahan kesehatan .
7.      Koping individu tidak efektif yang b/d prognogsis penyakit, gambaran diri yang salah ,dan perubahan peran .
8.     Risiko kekambuhan yang b/d ketidakpatuhan terhadap peraturan terapeutik tidak mau menerima perubahan pola hidup yang sesuai .

4.   RENCANA KEPERAWATAN   
*      Diagnosa keperawatan : nyeri akut b/d ketidakseimbangan suplai darah dan oksigen dengan kebutuhan miokardium  
Tujuannya : terdapat penurunan respon nyeri dada .
Intervensinya :
·         Kaji karateristik nyeri, lokasi ,intensitas ,lama dan penyebarannya .
Rasionalnya : variasi penampilan dan perilaku klien karena nyeri terjadi sebagai temuan pengkajian .
·         Kolaborasi pemberian terapi farmakologis antiangina  
Rasionalnya : obat-obatan antiangina bertujuan untuk meningkatkan aliran darah ,baik dengan menambah supali oksigen maupun dengan mengurangi kebutuhan miokardium akan oksigen .
·         Kolaborasi pemberian terapi farmakologis trombolitik
Rasionalnya : trombolitik menghancurkan thrombus dengan mekanisme fibrinolitik ,mengubah plasminogen menjadi plasmin yang menghancurkan fibrin dalam bekuan darah .
·         Kolaborasi untuk tindakan terapi nonfarmakologi
Rasionalnya : kolaborasi apabila tindakan tidak menunjukkan perbaikan atau penurunan nyeri .


*       
*      Diagnosa keperawatan : actual /risiko tinggi menurunnya curah jantung yang b/d perubahan frekuensi ,irama ,dan konduksi elektrikal .
Tujuan : tidak terjadi penurunan curah jantung .
Intervensinya :
·         Auskultasi TD ,bandingkan kedua lengan ,ukur dalam keadaan berbaring ,duduk , atau berdiri bila memungkinkan . 
Rasionalnya : hipotensi dapat terjadi pada disfungsi ventrikel .
·         Evaluasi kualitas dan kesamaan nadi .
Rasionalnya : penurunan curah jantung mengakibatkan penurunan kekuatan nadi .   
·         Pantau frekuensi dan irama jantung  
Rasionalnya : perubahan frekuensi dan irama jantung menunjukkan komplikasi distritmia .  
·         Berikan makanan kecil/mudah dikunyah ,batasi asupan kafein .
Rasionalnya : makanan besar dapat meningkatkan karja miokarsium .kafein dapat merangsang langsung ke jantung ,sehingga meningkatkan frekuensi jantung .
*      Diagnosa keperawatan : actual/risiko tinggi pola nafas tidak efektif yang b/d pengembangan peru tidak optimal ,kelebihan cairan diparu sekndewr dan edema paru akut .   
Tujuan : tidak terjadi perubahan pola nafas  
Intervensinya :
·         Auskultasi bunyi nafas
Rasionalnya : indikasi edema paru sekunder akibat dekopensasi jantung .
·         Kaji adanya edema  
Rasionalnya : curiga gagal kongestif/kelebihan volume cairan .  
·         Ukur intake dan input klien
Rasionalnya : penurunan curah jantung mengakibatkan gangguan perfusi ginjal ,retensi natrium/air dan penurunan keluarnya urin .
·         Timbang berat badan
Rasionalnya : perubahan tiba-tiba dari berat badan menunjukkan gangguan keseimbangan cairan .
·         Pertahankan pemasukan total cairan 2.000 ml/24 jam dalam toleransi kardiovaskuler .
Rasionalnya : memenuhi kebutuhan cairan tubuh orang dewasa ,tetapi memerlukan pembatasan dengan adanya dekopensasi jantung .




*      Diagnosa keperawatan : actual/risiko tinggi gangguan perfusi perifer yang b/d menurunnya curah jantung .
Tujuan : perfusi perifer meningkat
Intervensinya :  
·         Auskultasi TD .bandingka kedua lengan ,ukur dalam keadaan berbaring ,duduk,atau berdiri bila mampu .
Tasionalnya : hipotensi dapat terjadi sampai dengan disfungsi ventrikel .
·         Kaji status mental klien secara teratur
Rasioalnya : mengetahui darajat hipoksia pada otak .
·         Kaji warna kulit, suhu, sianosis ,nadi perifer ,dan diaphoresis secara teratur .
Rasonalnya : mengetahui derajat hiposekmia dan peningkatan tahanan perifer .
·         Kajiadanya kongesti hepar pada abdomen kanan atas
Rasionalnya : sebagai gagal jantung kanan . jika berat ,akan ditemukan adanya tanda kengestif .
·         Catat murmur
Rasionalnya : menunjukkan gangguan aliran darah jantung ,(kelainan katup, kerusakan septum ,atau fibrasi otot kapiler .
*      Diagnosa keperawatan : intoleransi aktivitas yang b/d penurunan perfusi perifer sekunder dari ketidakseimbangan antara suplai oksigen miokardium dengan kebutuhan .
Tujuan : akticitas klien mengalami peningkatan .
Intervensinya :  
·         Catat frekuensi jantung ,irama ,dan perubahan tekanan darah selama dan sesudah aktivitas .
Rasionalnya : respons klien terhadap aktivitas dapat mengindikasikan penurunan oksigen miokardum .
·         Tingkat istirahat ,batasi aktivitas ,dan berikan aktivitas senggang yang tidak berat .
Rasionalnya : menurunkan kerja miokardium /konsumsi oksigen
·         Anjurkan untuk menghindari peningkatan tekanan abdomen, misalnya mengejan saat defekasi .
\rasionalnya : dengan mengejan dapat mengakibatkan bradikardi ,menurunkan curah jantung dan takikardia , serta peningkatan TD .
·         Jelaskan pola peningkatan bertahap dari tingkat aktivitas .contoh : bangun dari tempat tidur bila tak ada rasa nyeri ,ambulasi ,dan istirahat selama 1 jam setelah makan .
Rasionalnya : aktivitas yang maju memberikan control jantung ,meningkatkan regangan dan mencegah aktivitas berlebihan .
·         Rujuk ke program rehabilitas jantung .
Rasionalnya : meningkatkan jumlah oksigen yang ada untuk peningkatan miokardium sekaligus mengurangi ketidaknyamanan karena iskemia .  

*      Diagnosa keperawatan : cemas yang b/d rasa takut akan kematian ,ancaman atau perubahan kesehatan .
Tujuannya : kecemasan klien berkurang  
Intervensinya :   
·         Bantu klien mengekspresikan perasaan marah ,kehilangan ,dan takut .
Rasionalnya : cemas berkelanjutan memberikan dampak serangan jantung selanjutnya .
·         Kaji tanda verbal dan nonverbal kecemasan ,serta damping klien dan lakukan tindakan bila menunjukkan perilaku merusak .
Rasionalnya : reaksi verbal /nonverbal dapat menunjukkan rasa agitasi, marah ,dan gelisah .
·         Hindari konfrontasi .
Rasionalnya : konfrontasi dapat meningkatkan rasa marah, menunjukkan kerjasama, mungkin memperlambat penyembuhan .
·         Orientasikan klien terhadap prosedur rutin dan aktivitas yang diharapkan
Rasionalnya : orientasi dapat meurunkan kecemasan .
·         Kolaborasi :berikan anticemas sesuai indikasi contohnya diazepam
Rasionalnya : meningkatkan relaksasi dan menurunkan kecemasan . 

*      Diagnosa keperawatan : koping individu tidak efektif yang b/d prognosis penyakit , gambaran diri yang salah dan perubahan peran .
Tujuan : klien mampu mengembangkan koping yang positif .
Intervensinya :
·         Kaji perubahan dari gangguan persepsi dan hubungan dengan derajat ketidakmampuan .
Rasionalnya : menentukan bantuan individual dalam menyusun rencana perawatan atau pemilihan intervensi .
·         Identifikasi arti dari kehilangan atau disfungsi klien .
Rasionalnya : beberapa kien dapat menerima dan mengeatur perubahan fungsi secara efektif dengan sedikit penyesuaian diri .sedangkan yang lain mempunyai kesulitan membandingkan mengenal dan mengatur kekurangan .
·         Anjurkan klien untuk mengeksoresikan perasaan ,termaksud permusuhan dan kemarahan .
Rasionalnya : menunjukkan penerimaan ,membantu klien untuk mengenal dan mulai menyesuaikan dengan perasaan tersebut .
·         Dukung perilaku atau usaha klien seperti peningkatan minat atau partisipasi dalam aktivitas rehabilitas   
Rasionalnya : klien dapat beradaptasi terhadap perubahan dan pengertian tentang peran individu pada masa mendatang .
·         Pantau gangguan tidur peningkatan kesulitan kosentrasi ,latergi ,dan menarik diri.
Rasionalnya : dapat mengindikasikan terjadinya depresi .umumnya terjadi sebagai pengaruh dari stroke dimana memerlukan intervensi dan evaluasi lebih lanjur . 
*      Risiko kekambuahn yang b/d ketidakpatuhan terhadap aturan terapeutik : tidak mau menerima perubahan pola hidup yang sesuai . 
Tujuannya : klien mengenal factor-faktor yang menyebabkan peningkatan risiko kekambuhan .
Intervensinya :
·      Identifikasi factor yang mendukung pelaksanaan terapeutik .
Rasionalnya : keluarga terdekat apakah suami/istri atau anak yang mampu mendapat penjelasan dan menjadi pengawas klien dalam manjalankan pola hidup yang efektif selama klien dirumah dan memiliki waktu yang optimal dalam menjaga klien .
·         Berikan penjelasan penatalaksanaan terapeutik lanjutan .
Rasionalnya : setelah mengalami serangan jantung akut ,perawat perlu menjelaskan lanjutan dengan tujuan dapat ;membatasi ukuran infark, menurunkan nyeri dan kecemasan aritmia dan komplikasi .
·         Beri dukungan secara psikologis
Rasionalnya : dapat mampu meningkatkan motivasi klien dalam mematuhi apa yang telah debarikan penjelasan .






5 . EVALUASI  
Hasi yang diharapkan pada proses keperawatan klien dengan infark miokardium tanpa komplikasi adalah sbb:
1)      Bebas dari nyeri
2)      Menunjukkan peningkatan curah jantung .
3)      TTV kembali normal
4)      Terhindar dari risiko penurunan perfusi perifer
5)      Tidak terjadi kelebihan volume cairan
Ø  Tidak sesak
Ø  Edema ekstremitas tudak terjadi 
6)      Menunjukkan penurunan kecemasan
Ø  Memahami penyakit dan tujuan perawatannya .
Ø  Mematuhi semua aturan medis
Ø  Mematuhi kapan harus memibta bantuan medis bila nyeri menetap atau sifatnya berubah .
Ø  Menghindari tinggal sendiri saat terjadi fase nyeri .  

7)      Memahami cara mencegah komplikasi dan menunjukkan tanda-tanda bebas dari komplikasi dengan cara sbb :
Ø  Menjelaskan proses terjadinya angina
Ø  Menjelaskan lasan tindakan pencegahan komplikasi
Ø  EKG dan kadar enzim jantung normal
Ø  Bebas dari tanda dan gejala klinik miokardium akut .
8)      Mematuhi program perawatan diri
Ø  Menunjukkan pemahaman mengenai terapi farmakologi
Ø  Kbiasaan sehari-hari mencerminkan penyesuaian gaya hidup .








BAB III PENUTUP  

A.   KESIMPULAN
IMA (infark miokard akut) Merupakan salah satu penyakit yang di akibatkan karena berkurangnya suplai oksigen kejaringan .sehingga kematian sel-sel mikardium yang terjadi akibat kekurangan oksigen berkepanjangan .

Selain itu ,serangan jantung terjadi jika ada suatu sumbatan pada arteri koroner menyebabkan terbatasnya atau terputusnya aliran darah kesuatu bagian dari jantung .dimana arteri koroner kiri memperdarahi sebagian besar ventrikel kiri, septum dan arteri kiri serta arteri kanan memperdarahi sisi diafragmatik ventrikel kiri sedikit bagian posterior septum dan vetrikel serta antrium kanan .
Akan tetapi , IMA(infark miokard akut) bisa diatasi .apabila ,perawat atupun tim medis segera melakukan tindakan kepada kliennya untuk cepat tanggap terhadap gejala-gejala yang ditimbulkan dalam IMA ini .


B.   Saran

Sebaiknya , untuk menghindari penyakit IMA ini .maka hindarilah hal-hal yang dapat menyebabkan fungsi otot jantung terganggu ,dengan melakukan pola nafas efektif dengan baik karena penyakit ini cukup membahayakan bagi tubuh dalam menjalankan aktivitas sehari-hari .

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar